Dari Rapat Kerja Komisi XII DPR "Menteri ESDM Mengungkapkan Ada Rencana Besar Indonesia Dalam Stop Impor Solar, Bensin Dan Avtur"
Dalam upaya menguatkan ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan terhadap produk BBM impor, serta mendorong kemandirian energi, pemerintah Indonesia melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memaparkan rencana strategis untuk menghentikan impor bahan bakar utama: solar, bensin nonsubsidi, dan avtur. Paparan ini disampaikan dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Kamis, 22 Januari tahun ini meliputi :
Stop Impor Solar Mulai Tahun Ini
Rencana pertama merupakan mengakhiri impor solar (terutama jenis CN48) pada tahun 2026. Menurut Bahlil, dengan berjalannya program mandatori biodiesel B40 dan beroperasinya Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan, produksi dalam negeri diperkirakan akan mencukupi kebutuhan domestik sehingga impor solar tidak lagi diperlukan. Selain itu dari surplus produksi solar diperkirakan mencapai sekitar 1,4 juta kiloliter, yang membuka peluang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri.
Stop Impor Bensin Nonsubsidi Pada Tahun Depan Mendatang
Langkah berikutnya harus menghentikan impor bensin nonsubsidi seperti RON 92, RON 95, dan RON 98 pada akhir tahun 2027. Bahlil menjelaskan bahwa jika kapasitas produksi dalam negeri meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan pasar, maka impor bensin jenis tersebut tidak lagi diperlukan. Namun untuk bensin bersubsidi RON 90 (Pertalite) kemungkinan masih akan diimpor karena perannya dalam program subsidi BBM.
Target Stop Impor Avtur juga pada Tahun Depan Mendatang
Selain itu pihak pemerintah menargetkan penghentian impor avtur (bahan bakar pesawat) pada tahun depan mendatang juga. Untuk itu, Kementerian ESDM bersama PT Pertamina sedang berupaya mengonversi surplus solar menjadi bahan baku avtur melalui fasilitas produksi dalam negeri. Dengan cara ini, Indonesia berharap kebutuhan avtur bisa dipenuhi dari sumber internal tanpa perlu impor.
Fokus Pada Impor Minyak Mentah (Crude Oil)
Sebagai bagian dari strategi baru, Menteri ESDM menegaskan bahwa di masa mendatang fokus impor Indonesia akan bergeser dari produk jadi BBM ke impor minyak mentah saja. Hal ini dimaksudkan agar pengolahan produk bahan bakar dilakukan di dalam negeri, memperkuat industri kilang nasional dan menambah nilai tambah ekonomi.
Inti Kebijakan Dalam Raker Dengan DPR
Dalam rapat bersama Komisi XII DPR, Bahlil menyampaikan bahwa kebijakan ini merupakan arah besar pemerintah dalam meraih swasembada energi, ketahanan energi, dan kemandirian nasional. Rencana ini juga sejalan dengan perintah Presiden RI untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor energi sambil memaksimalkan potensi produksi dari kilang dalam negeri, khususnya Balikpapan RDMP.
Secara garis besar dari target berhenti impor yang diusulkan seperti :
Solar
tidak lagi impor mulai tahun ini, bensin nonsubsidi (RON 92, 95, 98): target selesai impor pada akhir tahun depan mendatang
Avtur
Target berhenti impor pada tahun depan mendatang, dengan produksi domestik memadai.
Langkah ini dipandang sebagai bagian penting dari transformasi energi nasional yang ingin mengoptimalkan produksi domestik, memperkuat industri kilang, dan meningkatkan kemandirian ekonomi Indonesia.

Komentar
Posting Komentar