Kekurangan Tidur Bisa Memicu Penyakit Dalam Tubuh Remaja "Kemungkinan Ini Fakta Ilmiah Bukan Mitos, Seperti Apa Tanggapan Dari Para Dosen Unair"
Tidur adalah kebutuhan biologis yang penting. Terutama pada masa remaja, saat tubuh dan otak sedang berkembang pesat. Di tengah kebiasaan begadang, belajar sampai larut, penggunaan gadget malam hari, dan tekanan sosial, fenomena kurang tidur pada remaja semakin sering terjadi. Pertanyaannya yang ada apakah benar kekurangan tidur bisa memicu penyakit di tubuh remaja atau hanya mitos belaka?
Pendapat Para Dosen Unair Tidur yang Kurang Bisa Memicu Masalah Kesehatan
Baru baru ini, dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) menyatakan bahwa kurang tidur bukan hanya membuat lelah, tetapi juga bisa menjadi salah satu penyebab obesitas pada remaja. Menurut beliau, pola tidur yang tidak tepat dan jam tidur yang kurang dapat berkontribusi pada peningkatan risiko obesitas, yang pada gilirannya menjadi faktor risiko untuk kondisi seperti diabetes, kadar kolesterol tinggi, maupun tekanan darah tinggi.
Dasar Ilmiah dari Penelitian Medis tentang Kekurangan Tidur
Pendapat dosen Unair ini bukan tanpa dasar. Banyak studi ilmiah menunjukkan secara konsisten bahwa kurang tidur memiliki dampak kesehatan yang nyata, terutama pada remaja misalkan :
Risiko Penyakit Kardiovaskular
Penelitian medis menunjukkan bahwa remaja yang tidur kurang dari jumlah yang direkomendasikan (biasanya 8 sampai 10 jam/malam) memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi (tekanan darah tinggi). Dalam satu studi ditemukan bahwa remaja yang tidur kurang dari 7,7 jam memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalami tekanan darah tinggi dibandingkan dengan mereka yang cukup tidur, suatu faktor risiko bagi penyakit jantung di kemudian hari. Selain itu dari penelitian lain di luar negeri juga menunjukkan hubungan antara kurang tidur dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular serta gangguan metabolik, yang relevan pada semua usia termasuk remaja. Division of Sleep Medicine
Gangguan Mental Dan Kognitif
Menurut tinjauan ilmiah terbaru, kurang tidur pada remaja juga berhubungan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, gangguan emosi, dan penurunan fungsi kognitif (memori, konsentrasi, dan pengambilan keputusan). Remaja yang tidur kurang juga cenderung menunjukkan perilaku risiko yang lebih tinggi, seperti kecenderungan konsumsi alkohol atau substansi lain. Springer Nature Link
Dampak Metabolik Dan Perilaku Makan
Selain obesitas juga kurang tidur dapat memengaruhi hormon yang mengatur nafsu makan (misalnya leptin dan ghrelin), sehingga meningkatkan keinginan makan di malam hari atau makan berlebihan. Kondisi yang bisa memperburuk berat badan. Hormon tersebut juga memengaruhi metabolisme secara keseluruhan.
Bukan Sekadar Mitos Tapi Perlu Bukti Kontekstual di Indonesia
Walaupun banyak literatur ilmiah global menguatkan hubungan antara kurang tidur dan risiko penyakit, masih dibutuhkan lebih banyak penelitian lokal yang spesifik meneliti remaja Indonesia serta faktor-faktor budaya dan gaya hidup yang unik di sini. Namun, pemahaman saat ini menegaskan bahwa dampak kekurangan tidur bukan sekadar mitos, melainkan fenomena yang didukung oleh bukti ilmiah internasional dan didukung pendapat dari para akademisi seperti dosen Unair.
Tidak sekadar mitos
Kekurangan tidur terbukti berkaitan dengan risiko berbagai masalah kesehatan. Mulai dari obesitas, hipertensi, gangguan mental, hingga penurunan fungsi kognitif.
Pendapat dosen Unair Sesuai Dengan ilmu kesehatan
Pernyataan bahwa kurang tidur bisa memicu obesitas pada remaja sejajar dengan pengetahuan medis tentang hubungan tidur, hormon, dan metabolisme.
Kurang tidur bukan satu satunya penyebab penyakit, tetapi merupakan faktor risiko yang signifikan jika terjadi secara kronis.

Komentar
Posting Komentar