Pejuang Rupiah Mengais Rezeki dari "Jahitan dan Sol Sepatu melangkah Lebih Maju Untuk Berjuang Dan Bertahan Hidup"

 


Di sudut jalan yang ramai, di antara deru kendaraan dan langkah orang orang yang terburu waktu, ada perjuangan sunyi yang terus berjalan. Bukan di balik meja kantor berpendingin udara, melainkan di atas bangku kayu sederhana, dengan jarum, benang, palu kecil, dan potongan sol sepatu. Di sanalah para pejuang rupiah menggantungkan harapan, mengais rezeki dari jahitan dan perbaikan sepatu.

Setiap pagi, mereka membuka lapak dengan doa yang sama: semoga hari ini ada pelanggan. Sebagian menggelar peralatan di emperan toko, sebagian lagi di tepi pasar atau dekat terminal. Pekerjaan mereka mungkin tampak sepele bagi sebagian orang, menjahit robekan celana, mengganti resleting, atau menambal sol sepatu yang aus. Namun dari pekerjaan inilah dapur tetap mengepul dan anak anak bisa bersekolah. Bagi para penjahit kecil dan tukang sol sepatu, keterampilan adalah modal utama. Keahlian itu tidak datang dalam semalam. Ada yang diwariskan turun temurun dari orang tua, ada pula yang dipelajari sejak usia belia karena tuntutan hidup. Jarum dan benang menjadi saksi proses panjang belajar dari kesalahan, dari jahitan yang miring hingga hasil yang kini rapi dan kuat.

Pendapatan yang diperoleh tak selalu pasti. Kadang ramai, kadang sepi berhari-hari. Di tengah gempuran produk baru dan budaya “beli baru lebih praktis”, jasa mereka kerap terpinggirkan. Namun mereka tak menyerah. Prinsip hidup mereka sederhana tetapi selama masih ada sepatu rusak dan pakaian robek, selama itu pula harapan tetap ada. Menariknya, di balik kesederhanaan lapak-lapak ini tersimpan nilai keberlanjutan. Saat dunia berbicara tentang pengurangan limbah dan konsumsi berlebihan, para tukang jahit dan sol sepatu justru telah lama mempraktikkannya. Mereka memperpanjang usia pakai barang, mengajarkan bahwa memperbaiki tak selalu kalah dengan membeli yang baru.

“Selangkah lebih maju” bagi mereka bukan tentang lonjakan besar dalam penghasilan, melainkan kemajuan kecil yang berarti. Hari ini dapat lima pelanggan, besok mungkin tujuh. Hari ini bisa mengganti sol sepatu anak sekolah, besok menjahit seragam kerja. Setiap jahitan adalah langkah kecil menuju kehidupan yang lebih baik. Di tengah keterbatasan, mereka tetap menjaga kualitas dan kejujuran. Harga yang dipatok sering kali disesuaikan dengan kemampuan pelanggan. Bagi mereka, rezeki bukan hanya soal uang, tetapi juga keberkahan dan kepercayaan. Pelanggan yang puas akan kembali, bahkan merekomendasikan kepada orang lain.

Kisah para pejuang rupiah ini mengajarkan arti ketekunan dan martabat kerja. Bahwa pekerjaan apa pun, selama halal dan dijalani dengan sungguh-sungguh, adalah bentuk perjuangan yang patut dihargai. Dari balik jahitan sederhana dan sol sepatu yang kembali kuat, ada harapan yang dijahit rapi. Harapan untuk hidup yang terus melangkah, meski perlahan.


Komentar