Perkampungan Kumuh Atau Riverside Di Jakarta " Menjadi Kilas Balik Perkampungan Di Tengah Hutan Beton"

 


Jakarta sering dikenal sebagai ibu kota modern penuh gedung pencakar langit, pusat bisnis dan kehidupan metropolitan. Namun di balik gemerlap pembangunan tersebut, masih tersisa area permukiman kumuh yang hidup berdampingan dengan kota modern. Salah satu contohnya adalah perkampungan Kumuh yang sering disebut “Riverside” di Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat. 

Asal Usul Riverside Juga Lokasi

Wilayah yang disebut “Riverside” ini berada di bantaran Kali Krukut, sebuah sungai kecil yang melintas di area pusat kota. Nama “riverside” sendiri sering dipakai para pengembang properti untuk proyek premium di kota besar. Namun dalam konteks kampung ini, istilah itu justru dipakai secara ironis karena rumah-rumah warga memang berdiri tepat di tepi sungai itu di tengah “hutan beton” Jakarta yang dipenuhi gedung tinggi.  Kawasan ini termasuk dalam RW 09 Kelurahan Kebon Kacang, di mana permukiman padat dengan gang sempit bersisian langsung dengan tepian Kali Krukut menjadi tempat tinggal ribuan jiwa. 

Kondisi Fisik Dan Lingkungan

Perkampungan di bantaran sungai ini memiliki ciri khas permukiman kumuh meliputi :

Gang sempit yang hanya bisa dilalui satu orang atau satu sepeda motor,

Bangunan berdempetan, di mana rumah rumah tampak menempel satu sama lain sepanjang sungai,

Akses langsung ke sungai tanpa banyak pagar atau pembatas sehingga risiko jatuh ke kali cukup tinggi. 

Keseluruhan kondisi ini menunjukkan bagaimana tekanan kebutuhan tempat tinggal di pusat kota membuat permukiman penduduk berada di lahan yang rawan dan kurang layak huni baik dari sisi sanitasi, akses air bersih, maupun keselamatan bangunan.

Kehidupan Sosial Warga

Meski hidup dalam kondisi yang padat dan lingkungan yang kurang bersih, kampung ini tetap menjadi “rumah” bagi banyak warga yang lahir dan besar di sana. Ada penduduk yang telah tinggal sejak dekade 1990-an dan mewarisi rumah dari nenek moyang mereka, serta juga warga migran dari kota lain yang memilih tinggal di sana karena biaya sewa yang relatif murah dibandingkan dengan kota besar.  Aktivitas keseharian di kampung ini sangat sederhana: mencuci, memasak, menjemur pakaian, hingga berkumpul di teras rumah. Suasana kebersamaan dan ikatan komunitas tetap kuat meskipun hidup di tengah berbagai keterbatasan.

Ironi Di Jantung Kota

Yang menarik juga sekaligus ironis merupakan fakta bahwa dari dalam kampung ini warga bisa melihat gedung gedung pencakar langit Jakarta sebagai latar belakangnya. Pemandangan tersebut menggambarkan kontras tajam antara modernitas kota dan realitas kehidupan sebagian warga yang masih tinggal di permukiman kumuh. 

Kawasan Kumuh Jakarta (Gambaran Lebih Luas)

Kampung Riverside ini bukanlah fenomena tunggal di Jakarta. Secara keseluruhan, hampir separuh wilayah Jakarta tercatat sebagai permukiman kumuh, terutama di tepi sungai dan jalur transportasi utama yang padat. Pemerintah pun telah menjalankan berbagai program penataan kawasan kumuh untuk meningkatkan kualitas hidup dan infrastruktur dasar di lingkungan lingkungan tersebut. 

Permukiman kumuh Riverside di Kebon Kacang adalah contoh nyata bagaimana kehidupan masyarakat kelas bawah tetap bertahan di area urban pusat meskipun menghadapi tantangan lingkungan fisik dan sosial. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa pembangunan kota besar harus berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kesejahteraan semua lapisan masyarakat, terutama yang tinggal di pinggiran sungai dan permukiman padat yang kerap terlewat dari sorotan. 


Komentar