Tanpa Kekerasan Dalam Dunia Aktual "Presiden AS Tegaskan Keinginan untuk Menguasai Greenland, Tidak Menggunakan kekerasan"

 


Presiden Amerika Serikat kembali menarik perhatian dunia dengan pernyataannya soal Greenland, wilayah otonom milik Denmark yang berada di Arktik. Trump menyatakan bahwa ia ingin AS memiliki akses penuh dan kontrol strategis atas Greenland, tetapi menegaskan tidak akan menggunakan kekerasan atau serangan militer untuk mencapainya.  Dalam pidatonya di World Economic Forum di Davos, Swiss. Presiden Amerika Serikat mengatakan bahwa perundingan sedang berlangsung untuk mencapai sebuah kerangka kerja kerjasama yang memberikan AS hak akses yang luas ke Greenland, meskipun detailnya belum final. Ia secara tegas menolak ide penggunaan kekuatan militer untuk menguasai wilayah tersebut. Presiden Amerika Serikat menyebut bahwa perundingan akan memberikan Amerika Serikat “akses total tanpa batas waktu” ke seluruh wilayah Greenland, sambil menyatakan bahwa hal ini penting untuk keamanan nasional AS. Trump juga menyinggung bahwa beberapa kepemilikan aset Eropa bisa menghadapi konsekuensi jika menentang kebijakan ini.  Namun diklaim ini langsung ditolak oleh pemerintah Greenland dan Denmark. Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menegaskan bahwa tidak ada “kesepakatan” yang memberi AS hak kepemilikan atas pulau itu, dan bahwa isu tersebut masih menjadi topik perundingan yang sangat sensitif. Ia menegaskan bahwa Greenland tetap bagian dari Kerajaan Denmark, bukan milik Amerika Serikat. Perdana Menteri Denmark  juga menegaskan bahwa kedaulatan Denmark atas Greenland tidak bisa dinegosiasikan tanpa persetujuan penuh dari pihaknya dan rakyat Greenland sendiri. Denmark menyatakan bahwa setiap perubahan status harus melalui jalur diplomasi dan hukum internasional, bukan tindakan unilateral. 

Reaksi Internasional terhadap Pernyataan Presiden Amerika Serikat
Pernyataan Trump memicu respons diplomatik luas dari sekutu-sekutu Eropa. Para pemimpin Uni Eropa menganggap isu ini serius dan akan mengadakan pertemuan luar biasa untuk membahas implikasi strategisnya terhadap keamanan kawasan Arktik dan hubungan transatlantik. ABC News

Sejumlah pejabat Eropa menggarisbawahi bahwa hubungan NATO akan diuji jika ada upaya untuk mengubah status Greenland secara sepihak, sementara isu ini juga memperlihatkan ketegangan antara kepentingan keamanan global dan penghormatan terhadap kedaulatan negara lain. The Guardian

Latar Belakang Isu
Greenland merupakan wilayah berpenduduk sekitar 57.000 jiwa yang memiliki tingkat otonomi tinggi dari Kerajaan Denmark. Pulau ini penting secara strategis karena letaknya di Arktik antara Amerika Utara dan Eropa, serta memiliki sumber daya alam dan lokasi militernya yang signifikan. Trump dan beberapa pejabat AS telah lama mengatakan bahwa AS perlu meningkatkan kehadiran di wilayah Arktik untuk menghadapi pengaruh negara negara lain seperti Rusia dan China. Para pejabat Greenland sendiri menolak anggapan bahwa penduduknya ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat. Mereka menegaskan bahwa keputusan tentang masa depan Greenland harus ditentukan oleh rakyat Greenland melalui proses demokratis, bukan oleh kekuatan politik luar. 

Isu “penguasaan” Greenland yang diangkat oleh Presiden AS bukanlah ancaman kekerasan yang akan dilancarkan secara militer. Trump sendiri menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer, tetapi lebih memilih jalur diplomasi dan negosiasi politik untuk mencapai tujuannya. Hal ini tetap menjadi topik yang rumit secara diplomatik, karena Greenland dan Denmark bersikeras mempertahankan kedaulatan mereka, sementara sekutu sekutu Eropa menuntut dialog yang menghormati hukum internasional dan hubungan transatlantik. 

Komentar