Teguran Polisi Sebagai Motivasi Keselamatan "Berkendara Untuk Pengingat Bukan Ancaman, Ada Penyesalan Gara Gara Lawan Arah"
Setiap pengendara sepeda motor pasti pernah berada di situasi terburu buru. Jalanan macet, waktu mendesak, dan akhirnya memilih jalan pintas, atau melawan arah. Awalnya terlihat sepele, hanya beberapa meter. Namun, ketika peluit polisi terdengar dan kita ditegur, saat itulah perasaan tidak nyaman muncul: takut, malu, bahkan menyesal. Penyesalan itu wajar akan tetapi jangan biarkan penyesalan berubah menjadi ketakutan berlebihan atau rasa benci terhadap aturan. Teguran polisi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pengingat bahwa keselamatan tidak bisa ditawar.
Melawan arah bukan hanya soal melanggar aturan lalu lintas. Itu soal nyawa nyawa kita sendiri dan orang lain. Banyak kecelakaan terjadi bukan karena tidak bisa mengendarai motor, tetapi karena merasa “sebentar saja tidak apa-apa”. Padahal, satu detik kelalaian bisa membawa dampak seumur hidup. Saat polisi menegur, ingatlah bahwa mereka tidak sedang mencari kesalahan, tetapi berusaha mencegah penyesalan yang lebih besar. Teguran hari ini bisa menyelamatkan kita dari kecelakaan esok hari. Daripada takut dimarahi, jadikan momen itu sebagai titik balik untuk menjadi pengendara yang lebih bijak.
Tidak perlu merasa rendah diri atau marah saat ditegur. Terima dengan lapang dada, akui kesalahan, dan jadikan itu pelajaran. Pengendara yang hebat bukan yang paling cepat sampai, tetapi yang paling selamat sampai tujuan. Mari ubah rasa takut menjadi kesadaran. Ubah penyesalan menjadi komitmen. Tertib berlalu lintas bukan karena takut polisi, tetapi karena kita menghargai hidup idup kita dan hidup orang lain. Karena pada akhirnya, pulang dengan selamat selalu lebih penting daripada sampai lebih cepat.

Komentar
Posting Komentar