Dalam perkembangan terbaru operasi pencarian pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, sebuah temuan perangkat elektronik ikut menjadi sorotan publik dan keluarga korban. Smartwatch milik kopilot Farhan Gunawan sempat tercatat merekam 13.647 langkah, memicu spekulasi adanya kemungkinan korban masih bergerak pasca kecelakaan.
Temuan Ponsel Dan Smartwatch
Tim SAR gabungan menemukan ponsel pintar milik Farhan saat melakukan penyisiran di kawasan hutan dekat lokasi kecelakaan. Ponsel tersebut masih terhubung dengan smartwatch yang dipakai Farhan saat penerbangan. Ketika diperiksa oleh pihak keluarga di posko SAR, pada layar ponsel muncul data aktivitas langkah kaki dari smartwatch. Menunjukkan pergerakan yang terus meningkat hingga mencapai 13.647 langkah dalam satu hari, terutama pada rentang pada tanggal 18 Januari tahun ini. Keluarga Farhan, termasuk kerabat dekat Pitri Keandedes Hasibuan, menyatakan temuan angka langkah itu sebagai bukti kuat bahwa Farhan mungkin masih bertahan dan bergerak di hutan pasca kecelakaan. Harapan muncul khususnya setelah data menunjukkan skor langkah meningkat dari pagi hingga larut malam. detikcom
Spekulasi Dan Harapan Keluarga
Dari screenshot yang dibagikan keluarga, terlihat grafik langkah yang meningkat sepanjang hari, yang mereka tafsirkan sebagai indikasi aktivitas fisik manusia. Bagi keluarga, setiap langkah adalah harapan bahwa Farhan masih hidup dan berusaha mencari pertolongan di medan yang ekstrem tersebut. Seruan kepada pemerintah dan pihak berwenang untuk menambah personel SAR, helikopter, dan peralatan lain pun disampaikan oleh keluarga demi memperkuat pencarian di kawasan hutan yang sulit dilalui ini.
Respons Resmi Basarnas Dan Penjelasan Ahli
Namun, Basarnas (Badan SAR Nasional) memberikan respons yang lebih hati-hati. Pihak SAR menegaskan bahwa data smartwatch belum bisa dijadikan bukti bahwa korban masih hidup. Mereka menyatakan temuan tersebut diserahkan kepada pihak kepolisian dan tim siber (Cyber Crime) untuk dianalisis lebih lanjut, termasuk melacak koordinat terakhir perangkat tersebut terekam. Kepala Basarnas menyatakan bahwa pihaknya tidak ingin berspekulasi atas informasi aktivitas smartwatch sebelum hasil otentik dan ilmiah diperoleh. Fokus SAR masih utama pada pencarian dan evakuasi korban serta inventarisasi serpihan pesawat.
Analisis Sementara
Para ahli forensik digital yang biasanya ditugaskan menghitung data perangkat seperti ponsel dan smartwatch dalam kasus kecelakaan memberikan catatan sebagai :
Data langkah pada smartwatch bisa mencerminkan aktivitas sebelumnya, bukan secara otomatis pasca kecelakaan.
Perangkat bisa menunjukkan rekaman langkah yang belum sempat di-sinkronisasi, sehingga angka langkah tinggi bisa berasal dari periode sebelum insiden.
Analisis mendalam perlu melihat penanda waktu (timestamp), lokasi GPS terakhir, serta sinkronisasi data cloud bila tersedia untuk memastikan kronologi sebenarnya.
Temuan 13.647 langkah di smartwatch kopilot ATR 42-500 telah mencuri perhatian publik dan keluarga korban, memunculkan harapan bahwa korban masih hidup dan bergerak pasca-kecelakaan. Namun, pihak SAR dan otoritas resmi masih menegaskan perlunya verifikasi lebih lanjut sebelum menyimpulkan apakah data tersebut mencerminkan aktivitas pasca insiden atau bukan. Operasi pencarian dan investigasi atas insiden ATR 42-500 terus berjalan, sementara masyarakat menanti hasil analisis data dari perangkat digital serta temuan fisik di lapangan.
Komentar
Posting Komentar